People Innovation Excellence

Learn in the air dari Agoes Rudianto

 

UNESCO merilis laporan yang menunjukkan efek pandemi yang meluas pada pendidikan di seluruh dunia, pada tahun 2020. Lebih dari 290 juta siswa di seluruh dunia mengalami gangguan studi karena penutupan sekolah dan universitas. 70 juta – sekitar seperempat – dari siswa ini tinggal di Indonesia, di mana akses ke kelas dan sumber daya online tidak dijamin. Di kota-kota terpencil dan daerah pedesaan di mana pendapatan rendah dan infrastruktur internet jarang, banyak keluarga tidak mampu membeli gadget, termasuk sinyal internet yang mempuni.

Agoes Rudianto adalah salah satu fotografer yang mengangkat kondisi ini menjadi sebuah essai foto. Kondisi dimana dilema masa pandemic sampai tulisan ini ditulis, belum berakhir di akhir tahun 2021. Walau saat tulisan ini ditulis, sebagian besar kampus dan sekolah di ibukota-ibukota propinsi Indonesia sudah menerapkan pertemuan tatap muka (onsite). Namun pengalaman yang diabadikan Agoes Rudianto ini adalah bagian dari sejarah yang dialami saat pandemi ini terjadi.

Saat sebagian masyarakat yang relative aktif berkomentar di sosmed, mengenai kekurangan system pembelajaran online melalui aplikasi Zoom atau Google Meet, Microsoft Teams, dll, mungkin banyak dari kita terpaku pada kekurangan dari kemalangan internasional ini. Sampai melupakan bahwa banyak lapisan yang lebih malang dari orang yang bisa mengakses sosmed. Banyak lapisan masyarakat yang belum mendapat akses internet yang layak, belum dapat gadget yang mumpuni, dan fasilitas pendidikan yang maksimal di saat pandemi ini.

Fotografer yang berbasis di Jakarta Agoes Rudianto baru-baru ini mengunjungi salah satu sekolah tersebut untuk mendokumentasikan tantangan yang dihadapi komunitas ini. “Pada awal pandemi Covid-19, saya menghabiskan setiap pagi dengan anak saya yang berusia empat tahun, membantunya belajar online,” katanya. “Kami cukup beruntung memiliki laptop dan koneksi internet yang baik untuk pembelajaran jarak jauh, tetapi saya tahu bahwa tidak semua anak dan orang tua seberuntung itu dan saya bertanya-tanya apa solusinya untuk mereka.”

Dia menempuh perjalanan ke SD Mojo di Surakarta (Solo), Jawa Tengah, dimana dia menemukan usaha gigih dalam keterbatasan fasilitas seharusnya tidak mengurangi niat transfer pendidikan untuk generasi penerus bangsa. Dimana pendekatan yang belum sempurna namun efektif untuk mengatasi krisis pendidikan. Sebuah sistem yang berputar di sekitar walkie-talkie – baik yang dibeli oleh sekolah atau disumbangkan – memungkinkan anak-anak belajar melalui gelombang udara.

Dengan menemui seorang guru ini, Sigit Pambudi,yang  juga merupakan anggota aktif dari Organisasi Amatir Radio Indonesia,  guru ini berusaha tetap menjalin komunikasi dengan siswanya disupport  walkie talkie, yang disupport komunitas dan sekolah, untuk digunakan demi tujuan pendidikan. Dengan tujuan menjadi bagian dalam mendukung anak-anak didaerah tersebut selama pandemi.

Dan kegigihan serta niat transfer belajar mengajar ini yang direkam oleh Agoes Rudianto, dengan keterbatasan kemampuan social dimana para orang tua siswa SD tsb tidak banyak yang mampu memiliki handphone, tidak disupport kuota yang memadai, dengan memakai walkie talkie ini, mereka dapat mendengarkan pengajaran guru, dapat berkomunikasi dalam keterbatasan dan tetap bisa menimba ilmu. Walaupun jauh dari sempurna, kadang suaranya tidak jernih, keras pelan, tidak jelas, namun usaha dan niat mereka adalah yang terbaik dalam kekurangan mereka.

Harapannya saat pandemic ini usai dia bisa memotret kembali mereka dengan situasi sekolah tatap muka.


Published at :

Periksa Browser Anda

Check Your Browser

Situs ini tidak lagi mendukung penggunaan browser dengan teknologi tertinggal.

Apabila Anda melihat pesan ini, berarti Anda masih menggunakan browser Internet Explorer seri 8 / 7 / 6 / ...

Sebagai informasi, browser yang anda gunakan ini tidaklah aman dan tidak dapat menampilkan teknologi CSS terakhir yang dapat membuat sebuah situs tampil lebih baik. Bahkan Microsoft sebagai pembuatnya, telah merekomendasikan agar menggunakan browser yang lebih modern.

Untuk tampilan yang lebih baik, gunakan salah satu browser berikut. Download dan Install, seluruhnya gratis untuk digunakan.

We're Moving Forward.

This Site Is No Longer Supporting Out-of Date Browser.

If you are viewing this message, it means that you are currently using Internet Explorer 8 / 7 / 6 / below to access this site. FYI, it is unsafe and unable to render the latest CSS improvements. Even Microsoft, its creator, wants you to install more modern browser.

Best viewed with one of these browser instead. It is totally free.

  1. Google Chrome
  2. Mozilla Firefox
  3. Opera
  4. Internet Explorer 9
Close